Oleh Front Pembebasan Gatholoco Ada sesuatu yang menarik terjadi di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir: Stirner — filsuf Jerman abad ke-19 yang nyaris terlupakan — tiba-tiba populer, dan popularitasnya itu melahirkan bukan pengikut egoisme murni, melainkan generasi insureksioner muda. Bagaimana bisa? Catatan ini mencoba menelusuri jalannya. Stirner Tidak Pernah Menyerukan Insureksi Hal pertama yang perluContinue reading “Stirner, Salah Baca, dan Insureksi”
Monthly Archives: May 2026
Stirner Bukan Anarkis
Tentang Spook Gerakan, Label sebagai Senjata, dan Politik yang Menolak Diidentifikasi Oleh Front Pembebasan Gatholoco Ada kebiasaan yang cukup mengakar dalam lingkar anarkis dan Kiri Indonesia: ketika seseorang tidak mau diatur, tidak mau tunduk pada konsensus gerakan, atau mempertanyakan doktrin yang sudah dianggap selesai—ia segera diberi label peyoratif. “Stirnerian” yang diucapkan dengan nada yang mengejekContinue reading “Stirner Bukan Anarkis”
Ideologi Jerman: Soal Marx, Engels, dan Santo Max yang Tidak Pernah Mereka Bantah
Oleh Front Pembebasan Gatholoco Dalam The German Ideology, Marx dan Engels menulis ratusan halaman untuk membantah satu orang: Max Stirner. Bagian itu mereka sebut “Sankt Max“—Santo Max, dengan nada ejekan. Mereka tidak pernah menerbitkannya semasa hidup. Naskah itu baru ditemukan dan diterbitkan jauh setelah keduanya meninggal. Ada yang menafsirkan itu sebagai bukti bahwa mereka sendiriContinue reading “Ideologi Jerman: Soal Marx, Engels, dan Santo Max yang Tidak Pernah Mereka Bantah”
Kritik Untuk Gerakan Pembebasan Perempuan
Oleh Contradiction, 1970-1972 Teks ini adalah kritik tajam terhadap Women’s Liberation yang dianggap gagal menghancurkan logika dominasi dan justru menciptakan bentuk baru darinya. Alih-alih menyerang akar alienasi kapitalisme, gerakan ini dinilai terjebak dalam moralitas anti-laki-laki, politik identitas, dan spectacle oposisi. Pembebasan yang dijanjikan akhirnya hanya menjadi integrasi perempuan yang lebih dalam ke dalam kerja, konsumsi,Continue reading “Kritik Untuk Gerakan Pembebasan Perempuan”
