Ideologi Jerman: Soal Marx, Engels, dan Santo Max yang Tidak Pernah Mereka Bantah

Oleh Front Pembebasan Gatholoco

Dalam The German Ideology, Marx dan Engels menulis ratusan halaman untuk membantah satu orang: Max Stirner. Bagian itu mereka sebut “Sankt Max“—Santo Max, dengan nada ejekan. Mereka tidak pernah menerbitkannya semasa hidup. Naskah itu baru ditemukan dan diterbitkan jauh setelah keduanya meninggal.

Ada yang menafsirkan itu sebagai bukti bahwa mereka sendiri merasa bagian itu belum selesai—belum cukup kuat untuk dipublikasikan. Dan ketika akhirnya dibaca secara luas, reaksi banyak pembaca bukan “Marx berhasil membantah Stirner”—melainkan sebaliknya: betapa banyak energi yang dihabiskan untuk menghindari pertanyaan yang seharusnya dijawab.

Kecuali orang-orang Kiri tentu saja, yang mati-matian membela Marx dan Engels, tanpa sekalipun membaca karya dari sang Santo yang menjadi sasaran respon duo idola mereka tersebut—kalau pun membaca, aku yakin mereka berpeluh-peluh berusaha memahami Ego and His Own hasil terjemahan Byington dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Inggris, yang sudah didaulat banyak memiliki kekeliruan tafsir. Dan jelas menjadi sebuah kekonyolan saat seseorang membaca dan menganggap diri paham atas sebuah respon, namun tak paham apa sesungguhnya yang direspon oleh buku tersebut.

Namun lepas dari hal tersebut, apa yang sebenarnya terjadi di sana? Ada tiga kekeliruan utama—dan ketiganya membentuk pola yang konsisten.

Kekeliruan Pertama: Stirner Dituduh Masih Hegelian

Argumen Marx dan Engels: Stirner mengkritik ide-ide abstrak seperti Tuhan, Negara, Manusia—tapi cara ia mengkritiknya masih bergerak di level ide. Ia tidak menyentuh kondisi material yang melahirkan ide-ide itu. Jadi Stirner, bagi mereka, hanyalah Hegelian yang malu-malu: masih percaya bahwa mengubah kesadaran bisa mengubah realitas.

Tapi ini meleset dari dua arah.

Pertama, Stirner tidak pernah mengklaim bahwa mengubah pikiran cukup untuk mengubah dunia. Aufstand—pemberontakan dalam pengertian Stirner—bukan proyek kesadaran. Ia adalah tindakan keluar dari hubungan konkret yang membelenggu. Stirner tidak bilang “sadari bahwa negara itu ilusi, maka engkau bebas.” Ia bicara tentang hubungan nyata antara individu dengan institusi yang bisa diganggu secara nyata.

Kedua—dan ini yang lebih penting—Marx dan Engels membaca Stirner seolah ia sedang menawarkan program transformasi sosial yang gagal karena terlalu idealis. Padahal Stirner tidak sedang menawarkan program transformasi sosial sama sekali. Itu bukan kegagalannya. Jelas Stirner tidak tertarik proyek tersebut.

Yang lebih mengungkapkan: kenapa Marx dan Engels perlu membaca Stirner sebagai Hegelian yang gagal? Karena kalau Stirner bukan Hegelian yang gagal—kalau ia sedang melakukan sesuatu yang berbeda sama sekali—maka kritik materialismenya terhadap Stirner tidak bekerja. Dan kalau kritik itu tidak bekerja, maka pertanyaan yang Stirner lemparkan ke arah komunisme harus dijawab secara serius.

Stirner menyerang semua universalisme—termasuk universalisme materialistis. Kelas, sejarah, emansipasi universal: itu semua, bagi Stirner, adalah spook juga. Mengubur Stirner sebagai “Hegelian yang gagal” adalah cara untuk tidak perlu menghadapi sang Santo.

Kekeliruan Kedua: Stirner Dituduh Naif Secara Sosial

Tuduhan berikutnya: Stirner tidak mengerti bahwa individu dibentuk oleh kondisi material dan sosial. Egoisme Stirner mengandaikan individu yang sudah bebas dan otonom sebelum masuk ke masyarakat—semacam atom sosial yang bisa memilih hubungannya sendiri. Hal itu, bagi Marx dan Engels, adalah ilusi borjuis klasik.

Masalahnya Stirner tidak pernah mengandaikan individu yang pra-sosial. Yang ia katakan justru lebih gelap dari itu: engkau sudah terbentuk oleh semua itu—oleh agama, negara, moralitas, keluarga—dan justru karena itu engkau perlu menyadari bahwa hubungan-hubungan itu bukan takdirmu. Bukan karena engkau bebas secara metafisik, tapi karena hubungan itu adalah sesuatu yang konkret dan semua yang konkret jelas bisa diganggu secara konkret juga.

Dan di sini ada ironi yang tidak bisa dihindari: proyek emansipasi Marx sendiri bergantung pada kelas pekerja yang mampu mengenali kondisi materialnya dan bertindak untuk mengubahnya. Namun kalau individu benar-benar sepenuhnya dibentuk oleh kondisi material—kalau tidak ada celah sama sekali antara kondisi dan kesadaran—dari mana kesadaran kritis itu muncul? Bagaimana revolusi bisa terjadi kalau subjeknya sepenuhnya adalah produk dari sistem yang ia lawan?

Marx punya jawaban untuk ini—soal kontradiksi internal kapitalisme. Tapi jawabannya tetap mengandaikan bahwa ada kapasitas dalam individu untuk melihat melampaui kondisi yang membentuknya. Dan kapasitas itulah yang juga diandaikan Stirner—hanya saja Stirner tidak membungkusnya dalam teleologi sejarah. Kritik Marx dan Engels berbalik mengenai diri mereka sendiri.

Kekeliruan Ketiga: Menghindari Pertanyaan yang Paling Mengganggu

Ini yang paling mengungkapkan—dan paling sengaja dihindari oleh duo Marx dan Engels.

Stirner mengkritik komunisme bukan dari luar, bukan sebagai pembela kapitalisme, melainkan dari arah yang tidak ada dalam peta ideologis yang sudah tersedia: komunisme, katanya, hanya memindahkan properti dari individu ke kolektif, tapi struktur penundukannya tidak berubah. Individu tetap ditundukkan oleh sesuatu di luar dirinya. Tuhan diganti Negara, Negara diganti Masyarakat, Masyarakat diganti Kelas—tapi individu tetap di posisi yang sama: mengabdi pada entitas abstrak yang lebih besar dari dirinya.

Pertanyaan yang Stirner lemparkan sangat spesifik: dalam masyarakat komunis, kalau individu tidak setuju dengan keputusan kolektif—apa yang terjadi? Siapa yang jadi tuan setelah revolusi? Dan atas dasar apa individu berhutang kesetiaan pada kolektif itu?

Marx dan Engels merespons dengan tiga cara—dan ketiganya adalah penghindaran, ngeles kalau memakai istilah sekarang. Mereka mengkarikaturkan posisi Stirner hingga terdengar lebih dangkal dari aslinya. Mereka menggeser level perdebatan dari filosofis ke historis-materialistis, yang tidak menjawab pertanyaan Stirner. Dan mereka mengejek—yang tentu saja, dalam sebuah perdebatan filosofis, ejekan hampir selalu adalah tanda bahwa seseorang tidak punya bantahan yang cukup kuat, terutama apabila ejekan itu hadir tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan.

Pertanyaan Stirner tidak pernah dijawab dalam The German Ideology. Ia hanya dikubur di bawah ratusan halaman ejekan. Dan tegangan yang ia tunjukkan—antara proyek kolektif dan individu yang konkret—terus muncul kembali dalam sejarah gerakan Kiri sampai hari ini.

Pola yang Konsisten

Kalau ketiga kekeliruan ini dilihat bersama, ada benang merah yang jelas: Marx dan Engels tidak bisa membiarkan Stirner benar—bukan karena Stirner salah, tapi karena kalau saja ternyata Stirner benar, maka proyek komunisme mereka sendiri harus dipertanyakan dari fondasinya.

Stirner bukan idealis yang naif. Ia adalah sumber ketidaknyamanan yang merata—menyikut liberal dan marxis dengan alasan yang berbeda tapi sama-sama mendasar. Liberal punya tuan bernama Hak dan Hukum. Marxis punya tuan bernama Kelas dan Sejarah. Stirner menolak keduanya—bukan untuk menawarkan sistem alternatif, tapi justru karena ia menolak logika sistem itu sendiri.

Dan di situlah ia sulit dihabisi. Bukan karena ia menawarkan jawaban yang lebih baik, tapi karena ia menolak untuk menawarkan jawaban sama sekali. Ia hanya membongkar. Dan pembongkaran itu tetap relevan setiap kali sebuah gerakan mulai meminta kepatuhan tanpa mempertanyakan dirinya sendiri.

Catatan untuk Konteks Lokal

Di Indonesia, ada fenomena yang cukup konyol: sebagian kalangan Kiri dan progresif mempromosikan The German Ideology—khususnya “Sankt Max”—sebagai bantahan terhadap Stirner, tanpa tampaknya pernah membaca Stirner itu sendiri.

Ini bukan sekadar masalah malas membaca. Ada fungsi sosial dalam ritual semacam itu: mengutip teks tertentu dan mendiskreditkan teks lain tanpa benar-benar masuk ke isinya adalah cara membangun identitas dan otoritas dalam lingkar pergaulan, bukan cara mencari pemahaman. “Aku di pihak Marx melawan Stirner” jelas bukan pernyataan intelektual—itu pernyataan keanggotaan. Hendak membangun ormas, kah?

Yang ironis: dengan melakukan itu, mereka sedang membuktikan Stirner benar. Stirner sudah menulis tentang bagaimana orang mengabdi pada ide bukan karena mereka memahaminya, tapi karena ide itu memberi mereka rasa memiliki sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Mereka sedang membuktikan Stirner benar sambil mengklaim membantahnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *