Kritik Untuk Gerakan Pembebasan Perempuan

Oleh Contradiction, 1970-1972

Teks ini adalah kritik tajam terhadap Women’s Liberation yang dianggap gagal menghancurkan logika dominasi dan justru menciptakan bentuk baru darinya. Alih-alih menyerang akar alienasi kapitalisme, gerakan ini dinilai terjebak dalam moralitas anti-laki-laki, politik identitas, dan spectacle oposisi. Pembebasan yang dijanjikan akhirnya hanya menjadi integrasi perempuan yang lebih dalam ke dalam kerja, konsumsi, dan representasi kapitalis modern. Teks ini dimuat dalam zine Kritik Untuk Gerakan Kiri Baru, diterbitkan oleh Yonaki Press.
***
Gerakan Pembebasan Perempuan, yang lahir dari penolakan terhadap dominasi dalam “gerakan laki-laki,” pada praktiknya tidak sepenuhnya keluar dari logika yang sama. Alih-alih membongkar struktur dominasi, ia kerap mereproduksinya dalam bentuk baru. Posisi “musuh utama” yang sebelumnya dilekatkan pada fasisme digantikan oleh chauvinisme laki-laki. Penolakannya terhadap hierarki formal pun akhirnya justru melahirkan hierarki informal yang lebih sulit dikenali dan dikritik.[1] Meskipun mengkritik gerakan kiri laki-laki karena terlalu bergantung pada musuh eksternal untuk mendefinisikan identitas perlawanannya, Women’s Lib sendiri melakukan hal yang sama hanya saja dengan bentuk yang berbeda: figur “militan bertobat”[2] yang bersujud di altar Revolusi Dunia Ketiga digantikan oleh figur “perempuan” yang melayani abstraksi “keperempuanan”.[3]

Di dalam diskursus gerakan, perempuan sering diposisikan setara dengan kelompok “super-tertindas” lain, seperti komunitas kulit hitam dan kelompok minoritas lainnya. Namun, analogi ini problematis karena “persoalan perempuan” tidak dapat direduksi menjadi sekadar persoalan bertahan hidup. Sebaliknya, bentuk-bentuk alienasi yang dialami perempuan justru berakar pada institusi-institusi sentral dalam kapitalisme modern, seperti keluarga inti, pembakuan peran gender, repetisi kerja domestik yang banal, serta penetrasi ideologi konsumerisme ke dalam kehidupan sehari-hari. Justru karena sifat ketertindasannya yang mendalam dan menyeluruh, persoalan ini menuntut kritik yang melampaui kategori identitas semata.

Pada fase awal, kelompok-kelompok diskusi yang dikenal sebagai consciousness-raising groups memainkan peran penting dalam memunculkan embrio kritik terhadap kehidupan sehari-hari, khususnya terkait dengan peran-peran sosial yang dilekatkan pada perempuan. Melalui pertukaran pengalaman personal, kelompok-kelompok ini membuka kemungkinan untuk memahami relasi antara pengalaman subjektif dan struktur objektif penindasan. Namun, potensi kritis ini kemudian mengalami pembekuan ketika diskursus mengkristal menjadi semacam “daftar masalah perempuan” yang statis, di mana perempuan dipahami semata-mata sebagai perempuan (qua women), terlepas dari diferensiasi sosial lainnya yang membentuk pengalaman mereka.

Seiring waktu, praktik ini bergeser menyerupai sesi terapi di mana individu didorong untuk semakin “peka” terhadap pengalaman penindasannya sebagai perempuan, tetapi tanpa kerangka analisis yang memadai, kepekaan itu berhenti menjadi intensifikasi emosi semata. Alih-alih menghasilkan kritik struktural, proses ini membuat individu terus berkubang di dalam luka, menelaah setiap detail luka itu hingga kepekaannya berubah menjadi kebencian, dan kritiknya menyusut menjadi moralitas.

Politik yang berpusat pada kebencian terhadap penindas—yakni, laki-laki sebagai kategori homogen—serta solidaritas abstrak dengan “semua perempuan,” pada akhirnya menggantikan potensi daya kritis yang semula muncul dalam proses consciousness-raising. Kini sang saudari tidak lagi menuntut sesuatu yang kompleks seperti transformasi sistem secara menyeluruh, melainkan menuntut adanya musuh hidup untuk diserang. Amarah yang semula berpotensi menjadi energi untuk melampaui kondisinya justru diarahkan menjadi agresi terhadap laki-laki sebagai kategori, sementara kebencian tersebut termaterialisasi dalam produksi spectacle—aksi simbolik, kampanye publik, dan ritual pengakuan—yang berfungsi lebih sebagai interpelasi moral daripada kritik struktural.

Akibatnya, penolakan terhadap subordinasi lama justru melahirkan bentuk subordinasi baru. Dari pengorbanan terhadap hasrat laki-laki, individu bergeser ke pengorbanan diri atas nama “kebutuhan perempuan.” Upaya menemukan kembali diri yang telah ia tinggalkan pun berubah menjadi upaya mengorganisir sebanyak mungkin perempuan lain yang dengannya ia dapat berbagi tak lebih dari katarsis kolektif atas penderitaan bersama. Solidaritas yang terbentuk pun cenderung afektif dan repetitif, alih-alih analitis dan transformatif.

Dinamika ini juga melibatkan figur lain yang kerap luput dari perhatian, yakni pasangan laki-laki dari subjek perempuan. Ia muncul sebagai semacam antihero dalam lanskap Women’s Liberation; wajahnya yang letih dan sedikit tertekan menjadi saksi atas perjuangannya yang melelahkan untuk mengakui dan menanggalkan perannya sebagai “penindas.” Jika mula-mula ia memusuhi jeremiad[4] sang kekasih, segera ia mengakui bahwa alienasinya sendiri tak berarti dibandingkan dengan alienasi perempuan. Bagi sang Santo Antonius modern ini—yang dikepung oleh hantu-hantu dosanya terhadap perempuan—Women’s Lib datang tepat pada waktunya untuk menggantikan aktivitasnya yang impoten dalam “gerakan laki-laki” yang sedang runtuh.

Lebih jauh, meskipun Women’s Lib secara eksplisit menolak hierarki yang melekat dalam “gerakan laki-laki,” ia tidak berhasil mengatasi reproduksi hierarki dalam kelompoknya sendiri. Hal ini berakar pada model organisasi yang bertumpu pada demokrasi abstrak—semua perempuan diterima tanpa pembedaan konkret atas posisi, pengalaman, atau kapasitas. Lalu sebagai upaya mengelola ketegangan yang muncul, kelompok-kelompok ini mengadopsi serangkaian mekanisme kuantitatif: pembagian ke dalam unit-unit kecil, rotasi tugas, undian peran, serta kriteria eksklusi berbasis ukuran kuantitatif. Namun alih-alih menghapus ketimpangan, mekanisme ini justru menutupinya; hierarki informal tetap bekerja di bawah permukaan.

Kontradiksi antara posisi anti-hierarkis dan klaim solidaritas abstrak dengan “semua perempuan” menjadi latar bagi perpecahan yang kemudian muncul antara faksi anti-seksis dan anti-imperialis, khususnya dalam Konferensi Vancouver pada April 1971. Dalam forum tersebut, kelompok anti-seksis yang terasosiasi dengan Fourth World Manifesto mengkritik faksi anti-imperialis yang menggunakan retorika sisterhood untuk mempertahankan front politik bergaya Stalinis. Namun, kritik ini sendiri tidak konsisten: dalam waktu yang sama, mereka tetap merangkul delegasi “saudari” yang hadir sebagai perwakilan negara Vietnam Utara, sehingga menunjukkan ambivalensi antara kritik terhadap instrumentalisasi politik dan keterlibatan di dalamnya.

Dalam kerangka yang lebih luas, peran Women’s Lib dapat dipahami sebagai upaya mendorong masyarakat dominan untuk merealisasikan kesetaraan formal melalui proses proletarisasi total. Tuntutan akan perluasan akses terhadap kerja upahan, serta pengalihan kerja domestik ke sektor publik, pada praktiknya berkontribusi pada integrasi perempuan ke dalam kerja-upah dan pasar. Alih-alih mengatasi alienasi, gerakan ini sering kali hanya meredistribusikannya dalam bentuk yang lebih rasional dan merata.

Berbagai varian dalam Women’s Lib pada dasarnya berbagi horizon reformis yang sama, meskipun sebagian menyamarkannya dengan klaim bahwa perempuan merupakan kelas revolusioner tersendiri. Klaim ini mengaburkan fakta bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama terjerat dalam relasi sosial dan perbudakan yang dimediasi komoditas. Dalam perspektif sempit ini, komoditas dipahami semata sebagai alat chauvinisme laki-laki, yang kemudian disederhanakan sebagai keseluruhan struktur kekuasaan.

Keterbatasan ini membuat Women’s Lib gagal keluar dari wilayah musuh karena mereka sendiri juga gagal mengidentifikasi musuh tersebut. Wilayah itu adalah spectacle oposisi. Gerakan ini mula-mula mengecam militan laki-laki karena “menguasai panggung,” tetapi kemudian membangun panggungnya sendiri dalam bentuk yang paralel. Penyimpangan ini pun akhirnya memicu kritik internal dari mereka yang menuntut akses yang setara terhadap panggung representasi tersebut (lihat terutama esai “The Dialectics of the Celebrity,” yang mengkritik politik figur publik dalam gerakan).

Women’s Lib berupaya menyingkirkan citra usang perempuan sebagai sosok pasif hanya untuk menggantinya dengan citra perempuan yang “bebas.” Komite citra dari National Organization for Women (NOW—organisasi feminis reformis arus utama di AS) bahkan secara terbuka berkonsultasi dengan agen periklanan untuk “meyakinkan mereka agar menggunakan pendekatan pro-lib[eration]… Kami memberi tahu mereka bahwa perempuan sedang berubah dan mereka sebaiknya menampilkannya karena itu baik bukan hanya bagi kami tetapi juga bagi mereka.”

Dalam konteks ini, runtuhnya mitos inferioritas perempuan tidak serta-merta menghapus stereotip, melainkan membuka ruang bagi pembentukan stereotip baru yang selaras dengan tuntutan representasional spectacle. Figur-figur seperti “perempuan agresif” yang mengapropriasi label bitch, simbol “penyihir” (witch) dalam feminisme radikal, lesbian radikal, hingga feminis profesional yang berupaya memperoleh visibilitas dalam ruang publik, tampil berdampingan dengan tipe-tipe yang lebih konvensional seperti perempuan karieris, figur media populer, dan ibu rumah tangga. Semua tipe ini berinteraksi secara dinamis dalam medan pertunjukan yang sama: saling berkompetisi, saling menopang, dan saling menyesuaikan. Jane Fonda (seorang ikon seks Hollywood 1960-an) menanggalkan citra seksualnya yang telah kehilangan nilai dan mentransformasikan dirinya dari dewi seks menjadi bintang radikal.


[1] Misalnya, perempuan tertentu yang lebih karismatik, berpendidikan, atau berpengaruh menjadi pemimpin tidak resmi, mendominasi diskusi, atau menentukan arah gerakan.

[2] “Militan bertobat” merujuk pada aktivis (sering laki-laki kulit putih) dari posisi sosial yang relatif dominan yang menyadari adanya penindasan (rasial, kolonial, dll) dan meresponsnya dengan rasa bersalah moral. Rasa bersalah ini mendorongnya ingin “menebus dosa” dengan berpihak pada kelompok tertindas; mengidealkan perjuangan lain (misalnya, Dunia Ketiga, gerakan kulit hitam, dll); lalu menempatkan diri sebagai pendukung yang setia dan bahkan “mengorbankan diri.”

[3] “Abstraksi keperempuanan” merujuk pada konstruksi identitas “perempuan” yang diperlakukan sebagai esensi universal dan terlepas dari konteks historisnya—seolah semua perempuan memiliki sifat dan relasi sosial yang tetap dan seragam. Yang dikritik di sini adalah kecenderungan menjadikan identitas “perempuan” sebagai subjek moral yang diperlakukan sebagai substansi tetap untuk menjadi dasar legitimasi politik. Jadi yang dipersoalkan bukan perjuangan melawan seksisme/patrarki itu sendiri, tetapi kecenderungan mengganti bentuk mistifikasi ideologis dengan mistifikasi lain; dari “aku revolusioner karena aku melawan penindasan” ke “aku revolusioner karena aku perempuan”.

[4] Ratapan moralistik yang panjang dan penuh tuduhan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *