Oleh Front Pembebasan Gatholoco

Ada sesuatu yang menarik terjadi di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir: Stirner — filsuf Jerman abad ke-19 yang nyaris terlupakan — tiba-tiba populer, dan popularitasnya itu melahirkan bukan pengikut egoisme murni, melainkan generasi insureksioner muda. Bagaimana bisa?
Catatan ini mencoba menelusuri jalannya.
Stirner Tidak Pernah Menyerukan Insureksi
Hal pertama yang perlu diluruskan: Max Stirner bukan insureksioner. Dalam karyanya Der Einzige und sein Eigentum — yang diterjemahkan secara keliru menjadi The Ego and His Own, padahal lebih tepat The Unique One and Their Own — Stirner justru membedakan dua hal: revolusi dan Aufstand (pemberontakan).
Revolusi, bagi Stirner, adalah proyek kolektif yang mengganti satu sistem dengan sistem lain — dan dia menolak itu. Karena baginya, revolusi masih terjebak dalam logika mengabdi pada ide-ide abstrak: keadilan, kemerdekaan, masyarakat. Yang ia tawarkan adalah Aufstand — sesuatu yang jauh lebih personal. Bukan mengubah dunia, melainkan keluar dari hubungan yang membelenggu dirimu sendiri. Bukan untuk semua orang, melainkan untuk dirimu.
Dengan kata lain: Stirner yang sesungguhnya bukan hanya bukan insureksioner — ia bahkan skeptis terhadap segala bentuk proyek bersama.
Mengapa Bisa Salah Baca?
Ada tiga lapis yang bekerja sekaligus.
1. Masalah Terjemahan
Terjemahan Inggris paling umum yang beredar — karya Byington — sudah lama dipersoalkan. Judul The Ego and His Own itu sendiri menyesatkan: kata “ego” membawa asosiasi psikologis dan moral yang justru ingin dihindari Stirner. Der Einzige lebih dekat ke “Yang Unik” atau “Yang Tunggal” — sesuatu yang jauh lebih radikal dan sulit dikategorikan.
Kalau terjemahan Inggrisnya saja sudah bermasalah, maka terjemahan Indonesia yang mengacu ke sana mewarisi kesalahan berlapis. Pembaca Indonesia, dalam banyak kasus, tidak membaca Stirner — mereka membaca bayangan Stirner yang sudah terdistorsi dua kali.
2. Masalah Mediasi
Stirner tidak masuk ke Indonesia lewat ruang kosong. Ia masuk lewat jaringan anarkis yang sudah punya tendensi insureksioner sebelumnya. Artinya, ketika Stirner diperkenalkan, ia sudah dibungkus dalam frame tertentu: anti-otoritas, tindakan langsung, penolakan terhadap organisasi formal. Stirner dibaca bukan sebagai filsuf yang perlu dipahami dalam konteksnya, melainkan sebagai amunisi untuk posisi yang sudah ada duluan.
3. Masalah Literasi dan Konteks Politik
Stirner bukan penulis yang ramah pembaca. Bahkan pembaca Jerman sezamannya banyak yang salah tangkap — Marx dan Engels sampai menulis ratusan halaman hanya untuk “membantah” Stirner, dan sebagian besar kritik mereka pun meleset.
Yang terjadi dalam proses penyebaran di media sosial adalah seleksi alamiah: bagian yang “berbunyi” dan mudah dikutip tersebar lebih jauh. Penolakan terhadap negara, agama, moralitas — itu resonan secara emosional. Bagian yang lebih susah, yang justru membuat Stirner unik — bahwa ia skeptis terhadap semua proyek kolektif termasuk anarkisme sendiri — itu yang rontok. Yang beredar bukan Stirner yang utuh, tapi Stirner yang sudah dijadikan estetika anti-otoritas.
Apakah Salah Baca Itu Masalah?
Ini pertanyaan yang lebih menarik dari sekadar “siapa yang baca dengan benar”.
Salah baca yang produktif adalah fenomena lama. Setiap generasi pembaca “salah membaca” pendahulunya dengan cara yang melahirkan sesuatu yang baru. Yang penting bukan apakah bacaannya akurat secara filologis, tapi apa yang dilahirkan dari bacaan itu.
Dan di sini ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan: proses ini membawa orang-orang yang sebelumnya tidak terlibat dalam aktivisme apapun — menjadi terlibat. Apakah itu hanya fase? Mungkin. Apakah itu akan bertahan dan mengeras? Mungkin juga. Tapi keterlibatan itu nyata, dan energinya nyata.
Tentang Kemurnian yang Tidak Pernah Ada
Ada godaan untuk menilai semua ini dari standar kemurnian: siapa yang paling baca dengan benar, siapa yang paling konsisten secara ideologis, siapa yang tidak terkontaminasi.
Tapi kekuasaan tidak bekerja di luar diri kita saja. Ia merasuk ke dalam cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Tidak ada subjek yang bersih darinya — termasuk mereka yang melawan. Termasuk kita sendiri.
Ini bukan alasan untuk menyerah. Justru sebaliknya: kalau kemurnian itu ilusi, maka yang tersisa adalah tindakan — dari subjek yang tidak sempurna, dengan pemahaman yang tidak sempurna, di tengah kondisi yang tidak sempurna. Dan tindakan itu tetap punya nilai.
Gangguan terhadap otoritas — meski sementara, meski dilakukan oleh orang yang “salah baca Stirner” — tetap gangguan. Otoritas yang terganggu, meski sebentar, tetap terganggu.
Konklusi
Stirner yang beredar di Indonesia bukan Stirner yang sesungguhnya. Tapi mungkin itu tidak sepenting yang kita kira.
Yang lebih menarik adalah pertanyaan ini: dari bacaan yang tidak sempurna, dari terjemahan yang sudah meleset, dari konteks yang berbeda jauh — sesuatu tetap menyala. Sesuatu yang membuat orang memilih untuk tidak diam.
Barangkali itulah yang paling penting untuk dijaga — bukan kemurnian bacaannya, tapi nyala itu sendiri.
