Ada sebuah momen pergeseran besar yang terjadi dalam sejarah manusia ketika dunia berhenti dipahami sebagai sesuatu yang hadir begitu saja dan mulai dipahami sebagai sesuatu yang “dibuat”. Momen itu adalah ketika borjuasi memenangkan pertarungan ekonomi melawan tatanan feodal, dan kemudian menerjemahkan kemenangan ekonomi itu menjadi kekuasaan politik negara melalui revolusi-revolusi besar: Inggris 1640, Amerika 1776, Prancis 1789. Sejak saat itu, gerakan nyata yang mengubah kondisi-kondisi yang ada—proses historis di mana manusia secara aktif merombak kondisi material dan sosial kehidupan mereka, bukan sekadar menyesuaikan diri dengannya—menjadi kekuatan yang paling dominan dalam kehidupan sosial. Perkembangan kekuatan-kekuatan produktif[1] menghancurkan hubungan-hubungan produksi lama[2], dan setiap tatanan yang pernah mengklaim dirinya abadi runtuh satu persatu menjadi debu. Hierarki sosial yang pernah bersembunyi di balik klaim hukum alam, kekuasaan para raja yang pernah mengklaim dirinya sebagai perwujudan kehendak Tuhan, atau tatanan yang mengklaim dirinya sudah ada sejak dulu dan akan ada selamanya—semua itu kini terlihat sebagaimana adanya: produk dari kondisi-kondisi tertentu pada waktu tertentu, yang muncul dan karenanya bisa berubah dan lenyap. Segala sesuatu yang dulu dianggap absolut berubah menjadi historis.
Pergeseran dalam ranah ekonomi dan politik ini, pada gilirannya, ikut mengubah cara manusia memandang diri mereka sendiri dan relasi-relasi dalam dunia mereka. Ketika tatanan lama runtuh dan jutaan orang dipaksa masuk ke dalam tatanan industri yang baru, dengan cara-cara hidup yang sama sekali asing dari apa yang diwarisi nenek moyang mereka, maka satu persatu kabut ilusi tentang tradisi yang berabad-abad atau hierarki yang dianggap natural mulai ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah hubungan-hubungan yang telanjang tentang siapa memiliki apa, siapa memerintah siapa, dan atas dasar apa. Dan dari ketelanjangan itulah muncul pertanyaan yang sebelumnya hampir tidak pernah bisa diajukan secara terbuka: mengapa harus demikian?
Dari pertanyaan itu mulai terlihat jawaban yang paling penting tentang apa sebenarnya yang di maksud dengan sejarah itu. Dalam tradisi materialisme-historis, sebagaimana yang saya yakini, sejarah adalah proses di mana manusia-manusia nyata, dalam kondisi-kondisi material yang konkret, memproduksi dan mereproduksi kehidupan mereka sendiri—dan dalam proses itu, mereka mengubah baik kondisi-kondisi materialnya maupun diri mereka sendiri. Sejarah tidak memiliki objek di luar apa yang ia ciptakan dari dirinya sendiri—ia bukan pelaksanaan rencana yang sudah ditulis dari luar, bukan perjalanan menuju tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh Tuhan atau hukum alam. Sejarah adalah proses yang menciptakan objek atau tujuannya sendiri dalam proses berjalannya. Oleh karena itu, tidak ada kekuatan di luar manusia yang bisa disalahkan atas kondisi yang ada, dan tidak ada kekuatan di luar manusia yang bisa diandalkan untuk memperbaikinya.
Meskipun cara pandang yang mendominasi era pra-modern, yang tanpa sadar memproyeksikan kepada sejarah sebuah tujuan yang sebenarnya berasal dari kebutuhan psikologis dan ideologis masyarakat itu sendiri. Cara pandang ini tidak hilang, malah justru diterima—juga tanpa sadar—oleh tatanan modern yang tercermin dalam keyakinan bahwa perkembangan produktif adalah tujuan sejarah itu sendiri. Dengan kata lain: kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan industri dianggap sebagai tujuan dari sejarah, dan bukan sekadar sarana yang digunakan manusia untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Kapitalisme, sebagai representasi kekuasan modern, begitu pandai mempromosikan ilusi ini: seolah-olah pertumbuhan kekayaan adalah tujuan akhir peradaban manusia.
Tetapi jika semua itu bukan tujuan, lantas apa tujuan dari sejarah? Jawabannya adalah subjek sejarah. Subjek sejarah tidak lain adalah proses penciptaan-diri dari yang berkelanjutan: manusia yang melalui kerja, perjuangan, dan relasi-relasi sosial mereka, secara terus-menerus membentuk dan membentuk ulang kondisi-kondisi keberadaan mereka sendiri, hingga pada akhirnya menjadi tuan dan pemilik atas dunia historis mereka sendiri serta atas petualangan-petualangan yang sepenuhnya disadari. Singkatnya, objek dan tujuan sejarah adalah menjadikan manusia sebagai subjek yang menjadi pelaku sekaligus tujuan dari sejarah itu sendiri.
Inilah cara berpikir yang mengiringi seluruh perkembangan material dan sosial sejak revolusi borjuis: pemikiran historis yang dialektis—suatu cara berpikir yang memahami realitas sebagai proses yang terus bergerak melalui kontradiksi-kontradiksi internalnya, di mana setiap kondisi mengandung benih-benih perubahannya sendiri. Ia lahir bersama perjuangan kelas, dari kebutuhan kelas-kelas sosial[3] yang berjuang untuk memahami posisi mereka dalam sejarah yang urung berhenti. Ia adalah cara berpikir yang tidak lagi puas dengan sekadar mencari makna dari apa yang ada—ia berusaha memahami pembubaran dari segala yang ada, dan dalam proses itu ia meruntuhkan setiap bentuk pemisahan: antara teori dan praktik, antara mereka yang berpikir dan mereka yang bertindak, serta antara pemahaman dan perubahan.
***
Adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel yang merupakan pelopor paling serius dan konsisten dalam tradisi cara berpikir historis yang dialektis ini. Bagi Hegel, persoalannya bukan lagi sekadar menafsirkan dunia, melainkan menafsirkan transformasi dunia—memahami bagaimana dan mengapa dunia berubah, bukan sekadar mendeskripsikan dunia sebagaimana adanya. Dibandingkan para pendahulunya, ini adalah lompatan yang sangat besar. Tapi karena ia membatasi diri hanya pada penafsiran atas transformasi itu—karena ia tetap berdiri di luar proses yang sedang ia pahami, sebagai pengamat yang merumuskan sistem dari jarak yang aman—ia tetap menjadi puncak filsafat dalam pengertian filosofis semata. Hegel berhasil mencapai titik tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang pemikir yang tugasnya adalah memahami dan menafsirkan, tapi ia tidak melampaui batas itu menuju sesuatu yang berbeda secara fundamental: mengubah.
Pemikiran historis Hegel dengan demikian masih berupa kesadaran yang selalu datang terlambat—kesadaran yang hanya mampu merumuskan pembenaran retrospektif atas segala sesuatu yang telah terjadi. Hegel sendiri, dalam kata pengantar Philosophy of Right, menggunakan simbol yang sangat tepat untuk menggambarkan ini: burung Minerva—simbol kebijaksanaan dalam mitologi Romawi—yang hanya terbang di senja hari, setelah siang telah berlalu. Pemahaman datang setelah peristiwa selesai, bukan selama atau sebelumnya. Dengan demikian, ia melampaui keterpisahan hanya dalam ranah pikiran: dalam sistem filsafatnya, sejarah tampak koheren dan bermakna, tapi dalam kenyataan, pemisahan antara subjek yang berpikir dan objek yang dipikirkan, antara pemahaman dan tindakan, antara teori dan praktik, tetap utuh dan tidak tersentuh.
Paradoks Hegel—yang membuat posisinya sekaligus sangat kuat dan sangat lemah—terletak pada hubungan antara pemikirannya dan kekuasaan pada zamannya. Hegel adalah pemikir revolusi-revolusi borjuis abad ketujuh belas dan kedelapan belas, tapi ia bukan pemikir dari dalam revolusi-revolusi itu. Ia adalah pemikir yang datang setelah semua revolusi itu terjadi, yang berusaha memahami dan memaknai hasilnya yang sudah mengeras menjadi tatanan baru. Karl Korsch[4] menangkap ini dengan sangat tepat: filsafat Hegel “tidak mencerminkan keseluruhan proses revolusi borjuis, melainkan hanya tahap akhirnya. Karena itu, ia adalah filsafat bukan tentang revolusi, melainkan tentang restorasi.” [5] Hegel tidak memahami revolusi dari dalam proses bergeraknya—ia memahaminya dari sudut pandang orang yang sudah melihat hasilnya dan kini berusaha menyatakannya sebagai sesuatu yang niscaya, sebagai sesuatu yang memang harus terjadi demikian.
Dengan cara itulah Hegel menjalankan untuk terakhir kalinya tugas klasik dari seorang filsuf: “pemuliaan terhadap keadaan yang ada”—fungsi yang selalu dimainkan filsafat sepanjang sejarahnya, mengambil tatanan yang ada dan menunjukkannya sebagai ekspresi dari sesuatu yang lebih tinggi. Bagi Hegel, “keadaan yang ada” itu tidak lain adalah keseluruhan gerak sejarah, bukan hanya tatanan sosial tertentu. Ini membuat posisinya jauh lebih canggih dari para pendahulunya, tapi pada akhirnya ia hanya melakukan hal yang sama: mengubah proses yang masih terbuka menjadi kesimpulan yang sudah tertutup. Karena ia tetap mempertahankan posisi pikiran yang berada di luar peristiwa, satu-satunya cara membenarkan posisi eksternal itu adalah dengan menyamakannya dengan Roh absolut—kekuatan kosmis yang telah melakukan apa yang dikehendakinya dan menghendaki apa yang telah dilakukannya, dan yang tujuan akhirnya bertepatan dengan masa kini. Sejarah menjadi tampak sebagai pelaksanaan rencana yang sudah dari awal tahu ke mana ia pergi, dan sistem filsafat Hegel adalah momen di mana rencana itu akhirnya memahami dirinya sendiri secara penuh.
Ini adalah klaim yang mengandung kehancurannya sendiri. Jika sejarah sudah selesai dan Roh sudah mencapai kesadaran diri yang penuh, mengapa masih ada kontradiksi, masih ada perjuangan, masih ada kelas-kelas yang saling bertentangan di seantero dunia? Maka filsafat Hegel tiba pada titik di mana ia hanya dapat memuliakan dunianya dengan menyangkalnya—untuk menjadi relevan, ia harus mengklaim memahami totalitas, tapi mengklaim memahami totalitas berarti mengklaim bahwa totalitas itu sudah selesai dan tidak bergerak lagi. Seseorang dapat mengklaim memahami totalitas dari sesuatu yang masih bergerak dan belum selesai dengan menghentikan gerakannya secara intelektual. Dan menghentikan gerakan sejarah secara intelektual berarti menyangkal satu-satunya hal yang membuat sejarah itu hidup: kontradiksinya yang terus bergerak, pembubaran-pembubarannya yang terus berlangsung, dan kemungkinan-kemungkinannya yang belum terwujud.
Filsafat Hegel dengan demikian melengkapi tradisi filsafat yang panjang yang hanya bisa berfungsi sebagai penjaga kuburan sejarah—ia bisa memahami dan memuliakan apa yang telah terjadi, tapi ia tidak bisa memandu sejarah yang masih terbuka dan bergerak. Dan karena sejarah tidak pernah benar-benar selesai—karena Roh Hegel yang diklaim telah tiba pada tujuan akhirnya ternyata masih harus berhadapan dengan revolusi 1848, dengan Paris Commune 1871, dengan seluruh abad ke-20 yang berdarah—maka filsafat dalam pengertian klasiknya terpaksa menyerahkan tongkat estafetnya kepada sesuatu yang berbeda: kepada teori revolusioner.
***
Sejarah tidak berhenti hanya karena filsafat telah menyatakannya selesai. Kemunculan berbagai bentuk perjuangan kelas setelah Hegel meninggalkan warisannya adalah bukti paling signifikan dari kebenaran itu. Proletariat yang melalui tindakan perjuangannya sebagai kelas tersendiri, telah membuktikan bahwa pemikiran historis yang dialektis ini belum mati dan terlupakan. Setiap pemberontakan proletariat, pemogokan, atau setiap momen di mana kelas proletariat menolak untuk menerima kondisi-kondisinya sebagai niscaya dan abadi, karena itu, merupakan ekspresi penolakan praktis terhadap kesimpulan Hegel bahwa sejarah telah menemukan titik akhirnya.
Tetapi justru dengan menolak kesimpulan Hegel, proletariat membuktikan bahwa metode dialektis Hegel sendiri adalah benar. Bahwa setiap kondisi memang mengandung benih negasinya sendiri. Bahwa kontradiksi belum selesai. Bahwa sejarah tidak mengenal titik akhir selama masih ada manusia yang hidup, bekerja, dan menyadari dirinya sendiri. Penolakan proletariat terhadap kesimpulan pemikiran historis itu sekaligus menjadi pembenaran atas metodenya—sebuah konfirmasi melalui pemberontakan di jalanan dan di tempat-tempat kerja yang mengungkapkan bahwa pengadilan tempat kebenaran bisa diadili masih terbuka.
Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menyelamatkan pemikiran historis yang dialektis adalah menjadikannya pemikiran yang praktis. Tentu saja, bukan praktis dalam pengertian dangkal—pragmatis, oportunis, puas dengan hasil minimal yang bisa dicapai hari ini—melainkan praktis dalam pengertian yang paling mendasar: bahwa ia berhenti diperlakukan di luar sejarah sebagai pengamat yang merumuskan pembenaran atas apa yang sudah terjadi, dan mulai bergerak di dalam sejarah sebagai alat yang aktif, yang ikut membentuk arah dan jalannya perjuangan itu sendiri. Dengan demikian, praktik proletariat sebagai kelas revolusioner tidak bisa kurang dari kesadaran historis yang bekerja atas totalitas dunianya sendiri. Perjuangan yang sungguh-sungguh revolusioner tidak bisa berhenti pada tuntutan-tuntutan parsial belaka—upah lebih tinggi, atau jam kerja yang lebih pendek. Tuntutan-tuntutan itu, dalam beberapa situasi, memang penting, tetapi tanpa pemahaman atas totalitas sistem yang menghasilkan kondisi-kondisi alienasi itu, setiap kemenangan kecil akan diserap, dinetralisir, dan akhirnya digunakan untuk memperpanjang umur tatanan yang akar-akar persoalannya tidak pernah tersentuh. Tindakan yang total hanya dapat lahir dari pemahaman yang total; dan tindakan dalam totalitasnya tidak dapat direduksi menjadi sekadar memperbaiki satu sudut dari sebuah bangunan yang fondasinya memang harus diruntuhkan.
Warisan Hegel pun menjadi medan pertarungan intelektual yang menghasilkan seluruh kekayaan—dan seluruh pertentangan sengit—dalam tradisi pemikiran revolusioner. Semua arus teoretis besar dalam gerakan revolusioner kelas pekerja tumbuh dari konfrontasi kritis dengan pemikiran Hegelian: Stirner yang mendorong dialektika ke arah penolakan total atas semua universalitas abstrak demi keunikan individu yang konkret; Bakunin yang mewarisi semangat negasi dan penghancuran sebagai pembebasan tapi menolak keras setiap bentuk negara dan organisasi terpusat; dan Marx yang melakukan sintesis paling sistematis dan paling berpengaruh—mewarisi metode dialektis Hegel, membalikkan seluruh bangunannya dari idealisme ke materialisme, dan dengan demikian mengubah pemikiran historis-dialektis dari filsafat tentang bagaimana Roh memahami dirinya sendiri menjadi teori tentang bagaimana manusia-manusia nyata bisa memahami—dan mengubah—kondisi-kondisi material keberadaan mereka.
Ketiganya tidak setuju satu sama lain dalam banyak hal yang sangat fundamental. Tapi ketiganya berbagi satu titik tolak yang sama: Hegel telah memberikan alat berpikir yang paling tajam yang pernah ada—alat yang terlalu berharga untuk dibiarkan mengabdi pada kesimpulan restorasi yang tampaknya terlalu dipaksakan oleh Hegel sendiri. Burung Minerva memang hanya bisa terbang di senja hari. Tapi di fajar hari yang baru, yang terbang bukan lagi para filsuf—tetapi manusia-manusia yang telah memutuskan untuk tidak lagi menunggu malam tiba untuk mulai memahami dunia dan meruntuhkan dunia itu.
[1] productive forces: teknologi, pengetahuan, dan organisasi kerja yang terus berkembang di bawah kapitalisme.
[2] old relations of production: cara-cara feodal mengorganisir kerja dan kepemilikan yang menjadi penghalang bagi perkembangan lebih lanjut.
[3] Hanya ada dua kelas: borjuis dan proletar.
[4] Seorang Marxis Jerman yang bersama Georg Lukács mewakili generasi pemikir yang berusaha menghidupkan kembali dimensi dialektis Marxisme pada awal abad ke-20
[5] Restorasi dalam pengertian intelektual: pembenaran dan stabilisasi atas apa yang sudah dicapai, bukan dorongan ke depan menuju apa yang belum ada
