Archive for February, 2026

Menulis: Eksistensi Pasca-Kekacauan

Monday, February 9th, 2026

“‘Apa yang sedang kau kerjakan?’ tanya seseorang kepada Tuan Keuner. ‘Aku sedang mengalami banyak kesulitan,’ jawabnya. ‘Aku sedang menyiapkan kesalahanku berikutnya.’” (Bertolt Brecht, “Anecdotes of Herr Keuner”)

Hidup sebagaimana dialami (aktualitas) selalu hadir sebagai suatu arus yang terbuka, berjejal, dan tanpa arah; ia dipenuhi detail-detail remeh, kejadian-kejadian acak, dan respons spontan yang terjadi lebih cepat daripada pemahaman. Namun dalam kekacauan tersembunyi suatu makna, pola, atau inti yang bersifat “rahasia”—tidak disadari. Selama inti ini tetap tersembunyi sebagai “rahasia”, pengalaman hidup akan terus berjalan tanpa makna, terus mengembara, menumpuk dalam keterputusan, seolah menolak untuk dipahami sebagai satu kesatuan.

Perubahan terjadi ketika pengalaman itu menjelma menjadi cerita. Dalam proses penceritaan, apa yang semula tersembunyi mulai menampakkan diri; memperoleh arah dan bentuk; dan memperlihatkan keteraturan yang sebelumnya tak terlihat. Pada momen inilah muncul kejelasan yang khas yang hampir mengejutkan bahwa oh, ternyata ini intinya. Peristiwa-peristiwa lain pun, yang sebelumnya tercerai-berai, mulai saling merespons dan menemukan tempatnya, seolah ditarik oleh suatu pusat yang baru saja disadari keberadaannya.

Menulis atau bercerita, sebagai sebuah upaya menjelaskan pengalaman yang sebelumnya terasa kabur dan berantakan, juga sekaligus merupakan upaya mengenali prinsip tak kasatmata yang selama ini mengorganisasikan keteracakan pengalaman dari balik layar. Menulis, dalam pengertian ini, adalah tindakan eksistensial: suatu medan di mana subjektivitas dan realitas menemukan momen untuk saling menjangkau. Ketika relasi ini gagal, yakni ketika imajinasi dan aktualitas tak lagi saling menjangkau, muncullah ketergangguan pemaknaan terhadap pengalaman yang kerap disebut “kebuntuan”. Kebuntuan adalah gejala bahwa makna tersembunyi dari aktualitas belum ditemukan, dan jalan keluarnya bukanlah mengejar kesempurnaan, tetapi kesiapan untuk melakukan kesalahan.

“Mempersiapkan kesalahan” berarti bersedia belajar, bereksperimen, dan gagal secara sadar; menerima bahwa berpikir, bertindak, dan “mencipta” meniscayakan ketersesatan, dan karenanya: juga kemungkinan pengkoreksian. Alih-alih sebagai antitesis dari makna, kegagalan adalah prasyarat kemunculannya. Dengan menanggalkan obsesi terhadap keberhasilan dan hasil akhir, “sang aku” membuka ruang bagi makna untuk menampakkan diri dengan caranya sendiri. Maka, penemuan atas makna memerlukan keberanian untuk memasuki ketidakpastian yang tak terhindarkan—untuk tersesat, gagal, dan pada akhirnya, menemukan harmoni pasca-kekacauan.