Neurosis Karakter dan Kritik-Diri dalam Masyarakat Spektakel

January 1st, 2026 by yonaki

“Kita diajarkan untuk berpikir bahwa ‘seseorang tahu, tahu persis dalam setiap kasus bagaimana tindakan manusia terjadi’ […] tetapi ini hanyalah ‘ilusi kuno’ yang kita pegang erat daripada menghadapi ‘kebenaran yang menakutkan’ bahwa ‘semua tindakan pada dasarnya tidak diketahui’” (Friedrich Nietzsche, Dawn)

“Berapa banyak orang yang tahu bagaimana cara mengamati sesuatu? Dari sedikit yang bisa, berapa banyak yang bisa mengamati diri mereka sendiri?” (Friedrich Nietzsche, The Gay Science)

Karakter tidak lahir begitu saja; ia dibentuk oleh relasi tubuh dengan dunia disekitarnya. Pada mulanya tubuh “menelan” serangkaian pola nilai, kecenderungan, dan tindakan dari dunia luar, sebagaimana tubuh menelan makanan—sebagian terbuang dan sebagian menjadi bagian dari tubuh itu sendiri. Bahkan, meski telah mengenal bahasa (dan kesadaran), dorongan “menelan” ini masih bekerja lebih dominan ketimbang kesadaran. Inilah psiko-fisiologi Nietzschean: yang menggerakkan tubuh—yakni fisik dan psikis—bukan kesadaran; melainkan kecenderungan-kecenderungan yang nyaris otomatis dalam mekanisme biologis dan neurologis yang bekerja tanpa kita sadari—dan bahwa kebiasaan tubuh berbicara lebih keras daripada kesadaran. Dengan demikian, anggapan bahwa individu adalah makhluk yang sadar/rasional; yang mengetahui apa yang ia lakukan, hanyalah ilusi kuno dari filsafat barat yang beroperasi dalam dualisme tubuh vs jiwa dengan mengagungkan jiwa (mind) sembari menistakan tubuh yang konkret—sebuah ilusi yang tertanam kuat dalam akal sehat masyarakat hari ini.

Dorongan untuk “menelan” dari yang-lain bukan hanya karena itu merupakan kecenderungan utama tubuh dalam masa perkembangannya, tetapi juga karena tubuh lebih condong pada kesesuaian dalam kelompok: bertindak sesuai yang diharapkan dan menghindari pengucilan. Meski dibentuk oleh proses sosial, manusia tetap mengembangkan kesadaran diri yang memungkinkan untuk memahami, mengarahkan ulang, dan membentuk kembali dirinya. Tetapi  “skrip” (pola hidup yang berulang) untuk proses pembentukan ulang melalui kesadaran juga berasal dari warisan sejarah, budaya, dan lingkungan tempat tubuh berada sepanjang usianya.

Ada banyak macam “skrip” di dunia ini, tergantung pada kawanan seperti apa yang kita tempati. (untuk memahami bagian ini, baca: Nietzsche dan Anarchy). Tetapi dewasa ini, terdapat suatu skrip yang menjadi ciri utama dalam masyarakat modern yaitu sikap resistensi psikologis, di mana individu cenderung menolak dan menghindari eksplorasi terhadap hal-hal yang menyakitkan atau menyudutkan. Resistensi ini, yang dahulu hanya muncul dalam konteks analisis seorang terapis terhadap pasien, kini telah menjadi suatu bentuk konkret dari struktur kepribadian itu sendiri. Cara seseorang bersikap, berbicara, dan bereaksi cenderung menghindari kontak emosional telah menjadi pola yang membeku dan terorganisasi yang disebut Wilhelm Reich sebagai karakter. Dengan kata lain, karakter berfungsi sebagai mekanisme pertahanan yang permanen terhadap kecemasan, konflik, dan kebenaran yang mengganggu. Dan karena resistensi telah menjadi bagian dari kepribadian, seseorang sering tidak menyadari bahwa ia sedang “menolak”—penolakan itu terasa wajar, normal, dan bahkan dianggap sebagai bagian dari dirinya yang alami. Karena karakter terasa menyatu dengan diri, ketidaksadaran akan penyakit jusru menjadi ciri utama dari neurosis karakter. Orang dengan neurosis karakter tidak merasa dirinya bermasalah; yang bermasalah justru selalu tampak sebagai dunia luar atau orang lain.

Degradasi individualitas ini tampak jelas dalam proses komunikasi itu sendiri, misalnya dalam praktik analisis (terapi). Disitulah terlihat bagaimana seseorang berulang kali gagal hadir secara terbuka dalam perjumpaan dengan orang lain. Dengan bekerja sebagai perisai individu dari keterbukaan emosional, dari kemungkinan terluka, atau dari kecemasan, individu mesti membayar mahal perisai ini dengan hilangnya kemampuan untuk benar-benar terhubung dengan orang lain.

Selama karakter (neurosis karakter) masih tampak sebagai sifat pribadi yang alami, ia tidak dikenali sebagai masalah sosial—sebagai suatu penyakit sosial yang sistemik. Justru karena tidak terlihat sebagai masalah, ia menjadi sangat tahan lama dan efektif. Pada titik ini, kenyataan bahwa sisitem menghasilkan individu yang “rusak” secara sosial menjadi tenggelam dalam pelupaan dan kebingungan. Menurunnya kehidupan afektif, dan tumpulnya kecerdasan kritis menempatkan orang-orang dalam kerumunan kesepian yang saling terisolasi satu sama lain meski berdampingan.

Bagaimanapun, individu yang terisolasi adalah subjek yang ideal bagi sistem sirkulasi komoditas. Orang yang tidak benar-benar terhubung dengan sesamanya lebih mudah diarahkan pada konsumsi, kerja rutin, dan kepatuhan, karena kebutuhan akan pengakuan, makna, dan relasi hidup dialihkan ke benda, citra, dan pasar. Energi untuk saling mengenal dan diakui justru diserap oleh karakter itu sendiri—digunakan untuk memperkuat mekanisme pertahanan diri dan citra-diri sehingga akhirnya menetralkan potensinya sendiri. Dengan kata lain, karakter berfungsi sebagai alat mandiri untuk menjinakkan diri sendiri—dengan mengejar keseimbangan psikologis semu dalam sisitem yang tanpa henti mereproduksi ketidakseimbangan nyata itu sendiri.

Dengan demikian, kita mengidentifikasi 3 faktor yang membuat hidup yang benar-benar manusiawi menjadi mustahil: 1) kematian; 2) kegilaan (keruntuhan psikis); 3) karakter (adaptasi patologis). Pengulangan perilaku itu sendiri adalah tanda patologis dari karakter—ia mengulang, menyesuaikan diri, dan bertahan, tetapi gagal menciptakan situasi hidup yang baru. Pada akhirnya, ia hanya memperpanjang penyakit sosial itu sendiri. Karakter adalah “obat” bagi individu sakit dalam masyarakat yang sakit—ia memungkinkan individu bertahan dalam sistem yang menciptakan penyakit itu sendiri.

Oleh karena itu, individu adalah kaki-tangan spectacle; karakter adalah bentuk keterlibatan itu. Wabah sosial ini tidak dapat diatasi dengan analisis klinis dari para spesialis sejauh analisis klinis tidak mengajukan kritik terhadap sistem komoditas-spectacle; ia hanya bisa diluruhkan dengan menentang sumbernya, yakni masyarakat dalam totalitasnya. Pembebasan individu dan transformasi sosial adalah dua proyek yang sama.

Penentangan total ini dimulai dari kritik total terhadap masyarakat komoditas-spektakel. Untuk itu diperlukan semacam “qualities of adventure”—keberanian, risiko, imajinasi, keterbukaan, dan kemampuan menciptakan situasi baru. Tetapi karakter adalah perisai yang menghalangi kemunculan kualitas-kualitas ini—ia mengikat individu pada kebiasaan, rasa aman semu, pengulangan, dan ketakutan akan ketidakpastian. Kita mesti merusak lingkaran setan ini.

Kemungkinan mengatasi penderitaan hanya bisa muncul jika penderitaan yang pada dasarnya bersifat sosial itu diungkap sebagaimana adanya—ia mesti diakui, dan dipahami sebagai kondisi sosial, bukan nasib pribadi. Daya hidup dan kehendak untuk berubah (spirit  dalam istilah Hegelian) muncul dari pengalaman penderitaan yang disadari dan dipahami bersama. Sebaliknya, penderitaan yang disembunyikan—tidak dapat diungkapkan/dikenali sebagai penderitaan umum—akan menjadi lebih dalam dan tahan lama. Mengungkap penderitaan berarti mengungkap juga mekanisme sosial yang membuat penderitaan tidak terlihat.

Jika spektakel adalah ketiadaan spirit; dan karakter adalah ketiadaan teori; maka penghancuran karakter hanya dapat terjadi pertama-tama melalui kritik (sebagai cikal bakal teori) terhadap sistem spektakel—teori yang mengetahui rahasia dari penderitaan yang bersifat publik. Karena spektakel adalah bentuk rahasia dari penderitaan publik, maka efeknya berhenti ketika kerahasiaannya berakhir. Efeknya terletak pada kerahasiaannya. Penentangan dalam mode on!

***

“Jika seseorang harus lebih baik daripada yang dikritiknya sebelum berani bersuara, maka orang-orang “terbaik” tidak akan pernah tersentuh kritik” (Ken Knabb, Confessions Of A Mild-Mannered Enemy Of The State)

“Kami segera menyadari bahwa kami jauh lebih memahami tesis-tesis Debord melalui praktik langsung melalui grafiti, pamflet, atau draf-draf kritik yang sedang kami susun, daripada melalui diskusi abstrak di ruang-ruang pertemuan yang steril.” (Ken Knabb, Confessions Of A Mild-Mannered Enemy Of The State)

Kritik tidak selalu berarti bahwa yang mengkritik lebih unggul daripada yang dikiritik. Kalaupun ada ungkapan implisit tentang keunggulan dalam narasi, maka itu ditujukan secara sadar sebagai sindiran dengan tujuan untuk mengolok-olok objek kritik yang dianggap memiliki terlalu banyak mistifikasi. Biasanya, narasi sindiran dilibatkan dalam suatu kritik terbuka—untuk menghancurkan mistifkasi dan memprovokasi reaksi para die-hard fans sang objek kritikan untuk menjustifikasi mistifkasi—dan jarang sekali terjadi dalam konteks kritikan tertutup.

Untuk menghindari kritik jatuh ke dalam penghakiman moral, kritik perlu ditempatkan dalam kerangka “masyarakat spektakel”, di mana kediktatoran spectacle menguasai baik pengkritik maupun yang dikiritiknya. Ketika mengkritik individu sebagai bagian dari masyarakat spektakel, apa yang diserang adalah berbagai bentuk inkonsistensi/inkoherensi antara teori yang ditampilkan dengan tindakan yang dilakukan; atau berbagai bentuk perilaku dan ungkapan yang mencerminkan sifat-sifat spectacle itu sendiri; serta mengungkap mekanisme sosial, logika komoditas, dan bentuk-bentuk mediasi spektakuler yang memproduksi perilaku tersebut. Dengan menggunakan kerangka ini, sang pengkritik akan dengan sendirinya menyediakan kerangka di mana ia dapat dikenai kritik dalam kerangka yang sama dikemudian hari.

Fungsi kritik dalam kerangka spektakel adalah untuk menampilkan ilusi yang sebelumnya masih tersembunyi atau bersifat rahasia atau bahkan mungkin tidak disadari sama sekali. Ketika kritik berhasil menyingkap ilusi tersebut, signfikansi bagi sang pengkritik adalah ia kini memiliki semacam “kompas temporal” untuk mengubah hidupnya sendiri sekaligus menjadi draft yang perlu dikembangkan lagi menjadi teori tentang penindasan masa kini.

“[…] Sebuah teori kritis tentang spectacle tidak dapat menjadi benar kecuali ia bersatu dengan arus negasi praksis dalam masyarakat; dan negasi itu sendiri—yakni dilanjutkannya kembali perjuangan kelas revolusioner—pada gilirannya hanya dapat menjadi sadar akan dirinya dengan mengembangkan kritik atas spectacle, yang merupakan teori tentang kondisi nyata keberadaannya: kondisi konkret penindasan masa kini, dan yang sekaligus juga menyingkap potensi tersembunyi dari negasi tersebut.” – Tesis 203, Guy Debord

Dalam pengertian ini, kritik juga berfungsi untuk mendorong kesadaran-diri praksis, yakni ketika kritik menghasilkan suatu jeda refektif atas kebiasaan-kebiasaan harian, bahkan dalam kondisi tertentu memprovokasi kemungkinan untuk melakukan sesuatu yang berbeda—baik dalam cara bicara, mengonsumsi, berkomunikasi, menggunakan waktu dan perhatian, serta membangun relasi sosial. Karena itulah kritik dipahami sebagai “gangguan” yang memproduksi ketegangan dari kontradiksi antara ucapan dan tindakan, antara pengetahuan dan kebiasaan, antara keinginan untuk berubah dan ketergantungan pada tatanan diri atau dunia lama. Konflik internal semacam ini justru bersifat krusial, karena menandakan goyahnya struktur bangunan diri yang lama bahwa subjek tidak lagi berada dalam keadaan sepenuhnya “terbius” oleh spectacle.

Kegagalan memahami diri sendiri pada akhirnya berimplikasi pada kegagalan memahami orang lain; tetapi pemahaman terhadap diri sendiri dapat dilakukan melalui analisis terhadap orang lain—dan disinilah peran kritik menjadi penting, karena dalam banyak upaya, kita cenderung gagal menilai diri sendiri tanpa bantuan “mata” orang lain.

Kritik melalui tulisan (terbuka maupun tertutup) memiliki signifikansi yang lebih ketimbang kritik langsung secara verbal. Teks memungkinkan totalitas kritik yang bersifat tautologis secara argumen dapat tersampaikan tanpa dicela oleh distraksi perdebatan dalam kritik verbal. Teks mencegah lebih banyak sikap resisten yang berlebihan dari seseorang yang dikiritik—sesuatu yang serung terjadi dalam kritik verbal, terutama jika melibatkan pihak ke tiga. Ini hanyalah persoalan taktis—karena kegelisahan tidak selalu tau kapan waktu yang tepat untuk meledak.

Dalam setiap praktik kritik, selalu terdapat dua kemungkinan respons: penerimaan dan sikap defensif (resistensi psikologis). Dalam banyak kasus, resistensi awal merupakan bagian yang wajar—bahkan diperlukan—dalam proses belajar dan perubahan. Karena kritik biasanya tidak hanya menyerang pendapat atau perilaku tetapi juga menyerang identitas, kebiasaan, dan cara seseorang memahami dirinya sendiri (sebagai manifestasi spectacle dalam karakter) maka kritik akan terasa seperti ancaman eksistensial yang menuntut tubuh melakukan penolakan spontan terhadap gangguan atas kestabilan semu tersebut. Sejauh sikap defensif diikuti oleh refleksi dan, pada akhirnya, pergeseran sikap, maka respons defensif justru merupakan tanda bahwa kritik menyentuh sesuatu yang nyata. Terlebih ketika respons atas kritikan juga dilakukan melalui tulisan, maka ini menjadi keuntungan karena dengan sendirinya menuntut refleksi dari sang pembalas kritikan untuk membuktikan kesalahan narasi kritik ataupun menerima kritikan. Namun, ketika sikap defensif membeku dan berfungsi semata-mata untuk melindungi identitas atau posisi sosial, maka kemungkinan refleksi diri menjadi tertutup—dan itu pun bahkan merupakan keuntungan, paling tidak untuk pengkritik, untuk menarik garis batas antara mana kawan dan mana pengecut.

Tidak ada tolak ukur pasti dari keberhasilan kritik, karena ia tidak pernah bertujuan untuk membimbing, melainkan untuk “mengganggu”.

Januari, 2026